Indonesiantunes’s Weblog

Emmilia Contessa, Diva Pop Musik Indonesia Era 70-an

Posted by: indonesiantunes on: September 21, 2007

Mengulas musik pop Indonesia era 70-an tidak bisa lepas dari penyanyi bersuara lantang dan merdu, Emillia Contessa. Dijamannya, Ibu dari artis cantik, Denada, ini bisa dibilang diva-nya musik pop indonesia. Kemunculannya pertama kali di panggung TIM tahun 1976 saat lomba cipta lagu, langsung mendapat tempat dihati para produser. Tak heran jika setelah usai lomba itu, produser dan pencipta lagu, A Riyanto, langsung kepincut untuk mengajaknya rekaman.

Nah, Album Pop Indonesia volume 4 yang khusus menampilkan Emmilia Contessa ini adalah salah satu dari sekian album yang diluncurkannya. Dilepas kepasaran tahun 1978 oleh perusahaan rekaman ternama Musica studio yang bermarkas di Pancoran, Jakarta Selatan.

Materi lagu dialbum ini sepertinya sudah dipersiapkan matang oleh A Riyanto. Sejumlah pencipta lagu dan penyanyi diminta untuk memberikan restu lagunya di nyanyikan ulang oleh Emmilia Contessa. Walhasil, sembilan tembang dinyanyikan dengan gaya yang berbeda dan lebih bertenaga. Jika tidak percaya silahkan simak tembang “Mungkinkah” ciptaan M Sany yang dibawakan dengan penuh tenaga, meski intonasi nadanya terkesan melankolis. Tidak hanya itu, nafas panjang Emmilia Contessa membuat lagu tersebut semakin terbentuk, apalagi vibrasi penyanyi ini begitu jernih sehingga membuat lagu tampak lebih berbobot.

Tembang ciptaan Titiek Puspa bertitel “Jatuh Cinta” juga sukses dinyanyikan Emmilia Contessa. Komposisi lagu ceria dengan beat-beat cepat dengan mudah dilantunkan. Intonasi suara yang agak-agak genit bisa juga dilakukan dengan sukses, padahal, seperti yang kita ketahui Emmilia Contesa bisa dibilang spesialis pelantun lagu-lagu bernada sendu. Coba saja simak lirik dilagu “Mungkinkah”; sampai kapankah ku harus begini/biarkan saja ku terus begini/mengapa oh mengapa, siapa kan percaya/ apakah mungkin ingin engkau mengajak ku kembali/seperti waktu itu/ Tinggalkan saja dan lupakan semua yang terjadi/ anggaplah angin lalu.

Lain lagi karakter yang dibawakan saat menyanyikan “Mama” karya A Riyanto. Penghayatannya yang luar biasa mampu membawa sentimen pendengarnya ikut larut. Padahal intonasi vokal Emmilia bisa dibilang tinggi, namun tetap masuk senada dengan musik yang mendayu-dayu. Suasana larut dalam lagu bertambah, ketika Emmilia membacakan puisi yang menjadi pengiring lagu ini.

Dilagu berintonasi ceria, Emmilia juga berhasil membuat pendengarnya tersenyum atau mungkin berbunga-bunga bagi yang pernah mengalami. Misalkan dilagu “Jatuh Cinta” yang dibawakan begitu enjoy dan riang, apalagi iringan musiknya yang didominasi suara gitar dan piano ikut memperkuat karakter vokalnya. Begini liriknya; jatuh cinta, berjuta rasanya/biar siang-biar malam terbayang wajahnya/jatuh cinta, berjuta indahnya/dipandang dibelai amboi rasanya/jatuh cinta, berjuta indahnya/tertawa menangis karena jatuh cinta/ oh asyiknya ..

Tak bisa dipungkiri, karakter musik Indonesia era tahun 70-an sangat kuat dipengaruhi musik dari manca negara. Dialbum ini kesan itu terlihat pada tembang “Kata hati” yang rada-rada mirip dengan salah satu lagu dari grup musik rock asal Inggris, BlackSabbath yang dimotori pria gaek, Ozzy Osborn. Juga pada bait-bait tertentu terdengar potongan ritem grup musik Aerosmith.

Secara keseluruhan materi lagu ini lumayan oke. Penggarapan musik oleh A Riyanto juga bisa dibilang sukses. Namun yang lebih hebat adalah andilnya studio rekaman Musica yang mampu mentransfer master lagu ke pita suara yang memiliki kualitas prima. Terbukti sejumlah koleksi lagu penulis yang direkam Musica hingga saat ini masih terdengar bening, padahal usianya sudah lebih dari 20 tahun. Jadi bila ingin bernostalgia sekaligus larut dalam tembang alunan suara Emmilia Contessa, silakan cari beberapa lagu di album ini, dijamin asyik !

Sutono Rendra Lysthano
Peneliti pada Institute for Indonesian Music Studies (IIMS)

Leave a Reply